Titis, Tetes, Tetesing Sabda Berbudi Bawa Laksana

Senin, 11 Juli 2011

Geguritan "Sepi"

Sepi


Sanajan sepining pikiran anekani
Agawe nglambranging ati
Katon dadi suwunging manah
Ilanging rasa sumringah

Sepi ing manah
Sepi ing panggawe
Tansah agawe bungkrah
Rasane kelangan daya lan upaya

Tumuju ing sajroning ati
Aku tansah pasrah marang Gusti
Pepinginanku naming siji
Agawe ilanging sepi iki


 

Cerita Jaka Anakan, Cerita Sangkuriang Versi Jawa Tengah

Cerita Jaka Anakan Dalam Babad Prambanan 
Pada cerita Jaka Anakan diceritakan dalam Babad Prambanan. Di awal cerita diceritakan mengenai kerajaan Prambanan dan Pengging. Dalam Babad Prambanan tersebut terdapat pula cerita Roro Jonggrang. Di pinggir kali Opak, Roro Jonggrang melahirkan anak perempuan, anak tersebut hanyut ke sungai dan Roro Jonggrang pun meninggal dunia. Bayi perempuan yang dilahirkannya itu ditemukan oleh Randha Ruwek di atas sebuah batu. Bayi tersebut diberi nama Rara Temon. Jaka Burdan putra petinggi prajurit Prambanan Resi Baeksi melacak keberadaan Roro Jonggrang. Ketika sampai di Sokan dia melihat wanita mirip Roro Jonggrang yaitu Rara Temon. Ia mengejarnya, kemudian bertemu pertapa yang sebenarnya Raden Bandung Bandawasa. Ia berpikir pertapa tahu segala sesuatu, ketika ia bertanya pertapa diam membisu. Karena marah ia menerkamnya, dan Jaka Burdan dikutuk berubah menjadi anjing.
Ketika Rara Temon sedang menenun, alat tenun (tropong) jatuh ke tanah dibawah gubuk. Dia berharap siapapun yang mau mengambilkan troponya jika wanita dijadikan saudara dan jika lelaki dijadikan suami Ketika itu Jaka Burdan yang telah menjadi anjing akhirnya menemukan Rara Temon, dan mendengar suaranya yang sedang berbicara. Tropong yang jatuh itu digigit Jaka Burdan dan dibawa naik ke gubuk. Setelah menerangkan siapa dirinya akhirnya Jaka Burdan berhubungan badan dengan Rara temon. Randha Ruwek yang melihat anjing itu terus memukulnya, karena kesal si anjing menggigit Randha Ruwek hingga meninggal dunia. Akhirnya Rara Temon hamil dan melahirkan anak bernama Jaka Anakan (Jaka Truka) pada tahun 1078.
Jaka Truka senang berburu bersama anjingnya yang merupakan Jaka Burdan. Suatu hari Jaka Truka melihat dua ekor kijang, anjing Burdan diperintahnya untuk mengejarnya tetapi dia tidak mau. Karena marah Jaka Truka memukul kepala anjing dengan batu hingga tewas. Sesampainya di rumah Jaka Truka menceritakan kejadian itu, Rara Temon sangat sedih dan akhirnya bunuh diri dengan masuk ke dalam api yang berkobar.
Jaka Truka yang sedih sekali kemudian meninggalkan rumah tanpa tujuan yang pasti. Ketika berjalan dia bertemu dengan rombongan Raden Kanduyu yang membangun kekuatan di Panungkuhan yg menimbulkan kecurigaan raja Cirebon. Panungkuhan yang bersaudara dengan Cirebon mengangkat Jaka Truka menjadi patih. 
Cerita sangkuriang (Legenda Tangkuban Perahu)  
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayung yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.  
Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.
Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa (centhong) sehingga luka.
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

A.  Mari Kita Lihat Perbandingannya 
.      1. Pemeriksaan Tematik teks
    Dari kedua cerita antara cerita Jaka Anakan dengan cerita Sangkuriang mempunyai tema yang sama yaitu kemarahan ibu terhadap anak. motif yang disajikan didalamnya juga hampir sama yaitu suatu perbuatan tertentu dimana tokoh utama cerita Jaka Anakan melakukan perbuatan yang sama dengan tokoh utama cerita Sangkuriang. 
     2.  Pemeriksaan Genetic (Asal-usul) Teks
     Dilihat dari asal muasal cerita pada dasarnya cerita Jaka Anakan dengan cerita Sangkuriang berasal dari tempat yang berbeda. Secara spesifik disebutkan ceita Jaka anakan berasal dari daerah Jawa Tengah dimana cerita tersebut bersumber dari naskah Babad Prambanan. Cerita Sangkuriang berasal dari cerita lisan daerah Jawa Barat yang melengkapi legenda terbentuknya Tangkuban Perahu. 
    3.     Pemeriksaan Generik Teks 
    Cerita Jaka Anakan ini berjenis tembang yang terdapat pada karya Babad prambanan. Sedangkan cerita Sangkuriang merupakan cerita lisan yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang terhadap anak-anaknya. Berdasarkah jenis cerita dapat dikatakan bahwa kedua cerita mempunyai jenis yang berbeda. 
    4.      Pemeriksaan Kesejajaran Teks
     Unsur struktur cerita Jaka Anakan sesuai dengan jenisnya yang berbentuk tembang dimana ada beberapa bagian yang disebut pupuh dengan ketentuan guru gatra, guru wilangan dan guru lagu yang benar. Selain itu sebuah karya sastra berbentuk babad merupakan cerita sejarah sehingga alur cerita cukup terperinci meskipun alur yang digunakan adalah alur campur. Maka dari itu dapat dikatakan Babad Prambanan mempunyai kualitas yang baik dan terstruktur. Unsur struktur cerita Sangkuriang dalam legenda Tangkuban Perahu tidak terlihat sebagai sebuah karya sastra yang konkret karena cerita tersebut merupakan cerita lisan yang diceritakan secara turun temurun, meskipun ada penokohan, alur, tema dan setting yang diceritakan secara jelas. 
     5.      Penerapan teori 
    Teori yang digunakan dalam perbandingan cerita jaka Anakan dengan cerita Sangkuriang yaitu monogenesis. Dengan menggunakan teori monogenesis yang mengungkapkan kedua cerita tersebut bermotif sama karena berasal dari sebuah cerita yang pada dasarnya sama dapat dianalisis sebagai berikut : 
     a.       Perbandingan Tema
    Pada cerita Jaka Anakan dalam Babad Prambanan dengan legenda Tangkuban Perahu mempunyai persamaan tema yaitu tema yang kemarahan ibu terhadap anaknya. Berdasarkan teori monogenesis, karya sastra atau cerita yang mempunyai tema khas yang sama kemungkinan berasal dari cerita yang sama pula. Dalam kedua cerita ini terdapat motif khas suku Jawa yaitu adanya mesin tenun yang disebut tropong. Kesamaan tersebut diterima secara utuh tanpa perubahan karena culture kedua cerita memang sama, bahkan masih satu suku.   
     b.      Perbandingan Alur dan Cerita 
    Pada cerita tentang Jaka Anakan dalam Babad Prambanan disajikan dengan alur campur, dimana pada Babad Prambanan yang pada dasarnya menceritakan sejarah Kerajaan Prambanan terdapat berbagai cerita sampingan yang menyertai cerita Jaka Anakan tersebut. Selain itu dalam Babad Prambanan ini cerita disajikan dalam bentuk tembang. Dalam tembang yang disajikan terdapat candra sengkalan yang mencatat tahun peristiwa tersebut terjadi, sehingga peristiwa dalam cerita Jaka Anakan disajikan lebih rinci dan akurat. Dalam legenda tangkuban perahu alur yang digunakan yaitu alur maju. Dalam cerita diceritakan awal mula lahirnya dayang Sumbi hingga Sangkuriang yang mencintai ibunya sendiri secara urut.
     Dalam kedua cerita ini menceritakan peristiwa yang sama. Peristiwa yang sama antara lain 
     1.       peristiwa ketika seorang anak perempuan yang menjatuhkan tropongnya dan berharap seseorang yang mengambilkannya jika perempuan dijadikan saudara dan jika lelaki dijadikannya suami, selanjutnya yang mengambilnya yaitu anjing jantan yang merupakan jelmaan manusia yang pada akhirnya berhubungan badan dan mempunyai anak laki-laki. 
     2.      Peristiwa ketika si anjing tidak mematuhi perintah si anak sehingga mengakibatkan anak marah dan membunuh si anjing.
    Meskipun ada persamaan peristiwa, cerita ini juga memberikan beberapa peristiwa yang berbeda antara lain : 
    3.       Peristiwa asal-usul dari Rara temon dan Dayang Sumbi. Dalam cerita Jaka Anakan disebutkan bahwa Rara Temon merupakan anak dari Rara Jonggrang yang hanyut di kali Opak dan ditemukan oleh Randha Ruwek. Dalam cerita Legenda Tangkuban Perahu diceritakan Dayang Sumbi berasal dari air seni Raja Sungging yang tertampung dalam daun caring yang diminum  babi hutan betina bernama Wayung yang tengah bertapa ingin menjadi manusia. 
    4.      Peristiwa ketika Randha Ruwek yang dibunuh oleh si anjing dalam cerita Jaka Anakan sedangkan dalam legenda Tangkuban Perahu tidak ada peristiwa yang demikian. 
    5.       Dalam cerita Jaka Anakan diceritakan bahwa si ibu, Rara Temon bunuh diri ketika mendengar anjingnya dibunuh oleh anaknya sendiri dan pada akhirnya Jaka Anakan menjadi pengembara, sedangkan dalam cerita Tangkuban Perahu Dayang Sumbi yang mengetahui anjingnya dibunuh dan hatinya diberikan kepadanya mengusir Sangkuriang, akan tetapi pada akhrinya Sangkuriang bertemu lagi dengan ibunya dan jatuh cinta pada ibunya. 
     c.       Perbandingan Tokoh
    Kedua cerita ini mempunyai perbedaan nama-nama tokoh, walaupun begitu perwatakan tokoh-tokohnya mempunyai banyak kesamaan 
    1.       Jaka Anakan dengan Sangkuriang sama-sama mempunyai watak yang berani, mudah marah, terburu-buru melakukan tindakan 
   2.      Rara Temon dengan Dayang Sumbi sama-sama mempunyai watak yang lembut, penyayang, setia, cinta terhadap keluarga. 
    3.       Jaka Burdan dengan Tumang sama-sama mempunyai watak yang berani, terburu-buru melakukan tindakan, mudah marah. 
    d.      Perbandingan Setting
     Kedua cerita tersebut mempunyai setting dan latar yang sama, yaitu hutan. Terlihat pada cerita dimana Rara Temon maupun Dayang Sumbi bertempat tinggal di sebuah hutan yang jauh dari kerajaan. Meskipun pada cerita-cerita sebelumnya dalam Babad Prambanan berlatar istana sentris akan tetapi konsentrasi pada cerita Jaka Anakan bersetting di hutan. 
    e.       Perbandingan Amanat
     Pada kedua cerita ini memberikan amanat bahwa setiap orang janganlah terburu-buru dalam melakukan setiap tindakan karena semua tindakan yang dilakukan pasti akan menimbulkan sebuah akibat baik maupun buruk. Selain itu dalam kedua cerita tersebut tersirat amanat bahwa seorang anak haruslah menghormati dan menaati perintah orang tua, walau bagaimanapun keadaan orang tua tersebut. 

              Kajian Sastra Perbandingan
Riyani Tri Indryastuti

Resensi Roman Jawa

Roman Detektif Berbahasa Jawa

Judul              : Novel Seri Detektip Handaka  “Tretes Tintrim”
Pengarang       : Suparto Brata
Penerbit         : Penerbit Narasi
Tahun             : 2009
Tebal Buku      : 148 halaman
Ukuran            : 14,5 x 21 cm

 “Tretes Tintrim” merupakan salah satu karya sastra modern di Jawa. Cerita detektif Handaka yang ada dalam novel ini sebelumnya merupakan cerita berseri yang dimuat dalam majalah Jayabaya pada tahun 1965. Kemudian dicetak kembali kedalam bentuk novel berseri tahun 2009. Suparto sang pengarang memberikan ide segar pada karangan-karangannya karena beliaulah orang yang pertama kali mengarang cerita detektif . Beliau menekankan beberapa hal yang ada dalam sebuah cerita detektif pada umumnya seperti tugas seorang detektif dalam memerangi kejahatan dengan melakukan penyelidikan misteri-misteri secara diam-diam serta pemecahan yang bijaksana yang terjadi dalam sebuah kasus.
Novel yang berjudul “Tretes Tintrim” ini menceritakan tentang penangkapan seorang perampok yang berada di daerah Tritis, Pasuruan, Jawa Timur. Cerita detektif ini berawal dari perampokan yang terjadi di Semarang. Orang kaya yang bernama Kuswahartaka melapor kepada detektif Handaka mengenai kejadian perampokan yang terjadi pada siang hari itu. Sebelum memanggil detektif Handaka, Kuswahartaka telah menugaskan seorang detektif swasta lain yang bernama detektif Gambira. Karena setelah beberapa hari  detektif Gambira tersebut tidak member kabar maka beliau memanggil detektif Handaka untuk menyelesaikan perkara ini. Setelah ditelusuri perampok tersebut bernama Durmala yang keberadaannya masih tidak diketahui. Akan tetapi menurut petunjuk dai detektif Gambira, diketahui Durmala berada di sebuah desa yang bernama Tretes. Detektif Handaka menyuruh Kuswahartaka melapor polisi dan menyelidiki daerah tersebut.
Dalam buku ini diceritakan pula berbagai kejadian yang ada di sebuah hotel yang berlokasi di Tretes. Menurut petunjuk sebelumnya diketahui di dalam hotel tersebut terdapat sasaran Durmala berikutnya. Di hotel tersebut ternyata terdapat banyak tamu yang datang menginap pada saat itu. Orang-orang yang menginap saat itu antara lain tiga orang polisi, seorang wartawan dan seorang wanita cantik yang misterius. Ketika orang-orang tersebut berada di hotel tersebut, banyak kejadian aneh dan janggal yang membuat semua orang yang ada di dalamnya bingung dan ketakutan. Pada akhirnya kejadian-kejadian tersebut dapat diungkapkan kebenarannya oleh detektif Handaka.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, dapat kita ketahui bahwa cerita yang disajikan dalam novel ini sangat baru dan segar. Hal tersebut dikarenakan pada jamannya cerita detektif handaka ini merupakan satu-satunya cerita yang berani memberikan alur cerita yang menegangkan dan berbeda dengan roman-roman lain yang pada umumnya bercerita tentang kehidupan ataupun cinta. Cerita tentang detektif Handaka ini satu-satunya cerita detektif berbahasa Jawa yang tetap  menggunakan kultur masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Alur yang digunakan cukup jelas dan runtut. Selain itu cerita relatif sederhana dan tidak membuat bingung pembacanya. Berbagai misteri yang ada pada kejadian-kejadian dalam cerita tersebut dapat memberikan rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya kepada para pembaca sehingga membuat pembaca ingin membaca  cerita tersebut hingga selesai.
Bahasa yang digunakan dalam novel ini yaitu bahasa lisan yang merupakan bahasa Jawa ngoko. Bahasa ini merupakan bahasa populer dikalangan masyarakat Jawa. Maka dari itu dengan digunakannya bahasa ini gampang dimerngerti dan diterima oleh masyarakat Jawa tersebut. Selain itu tata bahasanya juga sudah sesuai dengan ketentuan yang ada dalam penggunaan bahasa Jawa. Akan tetapi bagi yang tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Jawa akan kesulitan jika ingin membaca novel tersebut. Hal itu dikarenakan novel “Tretes Tintrim” ini tidak diperbolehkan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa lainnya.
Secara keseluruhan, buku ini sangat layak untuk dijadikan bacaan bagi para penggemar novel jawa yang sudah bosan dengan cerita-cerita yang berbau cinta ataupun mistis. Novel yang berjudul “Tretes Tintrim“ ini dapat dijadikan alternative bacaan bagi anak-anak maupun dewasa sebagai sarana hiburan ataupun sarana pendidikan. Cerita yang padat namun berisi tidak membuat pembacanya urung untuk menyelesaikan membaca novel ini. Misteri-misteri yang ada didalamnya dapat memberikan efek penasaran tanpa melebih-lebihkan cerita yang ada di dalamnya. Bahasa yang sederhana namun lugas mempermudah para pembaca untuk memahami pesan-pesan yang ada di dalam novel tersebut. 

Riyani Tri Indryastuti
Pemerhati Sastra Jawa Modern