Titis, Tetes, Tetesing Sabda Berbudi Bawa Laksana

Senin, 11 Juli 2011

Resensi Roman Jawa

Roman Detektif Berbahasa Jawa

Judul              : Novel Seri Detektip Handaka  “Tretes Tintrim”
Pengarang       : Suparto Brata
Penerbit         : Penerbit Narasi
Tahun             : 2009
Tebal Buku      : 148 halaman
Ukuran            : 14,5 x 21 cm

 “Tretes Tintrim” merupakan salah satu karya sastra modern di Jawa. Cerita detektif Handaka yang ada dalam novel ini sebelumnya merupakan cerita berseri yang dimuat dalam majalah Jayabaya pada tahun 1965. Kemudian dicetak kembali kedalam bentuk novel berseri tahun 2009. Suparto sang pengarang memberikan ide segar pada karangan-karangannya karena beliaulah orang yang pertama kali mengarang cerita detektif . Beliau menekankan beberapa hal yang ada dalam sebuah cerita detektif pada umumnya seperti tugas seorang detektif dalam memerangi kejahatan dengan melakukan penyelidikan misteri-misteri secara diam-diam serta pemecahan yang bijaksana yang terjadi dalam sebuah kasus.
Novel yang berjudul “Tretes Tintrim” ini menceritakan tentang penangkapan seorang perampok yang berada di daerah Tritis, Pasuruan, Jawa Timur. Cerita detektif ini berawal dari perampokan yang terjadi di Semarang. Orang kaya yang bernama Kuswahartaka melapor kepada detektif Handaka mengenai kejadian perampokan yang terjadi pada siang hari itu. Sebelum memanggil detektif Handaka, Kuswahartaka telah menugaskan seorang detektif swasta lain yang bernama detektif Gambira. Karena setelah beberapa hari  detektif Gambira tersebut tidak member kabar maka beliau memanggil detektif Handaka untuk menyelesaikan perkara ini. Setelah ditelusuri perampok tersebut bernama Durmala yang keberadaannya masih tidak diketahui. Akan tetapi menurut petunjuk dai detektif Gambira, diketahui Durmala berada di sebuah desa yang bernama Tretes. Detektif Handaka menyuruh Kuswahartaka melapor polisi dan menyelidiki daerah tersebut.
Dalam buku ini diceritakan pula berbagai kejadian yang ada di sebuah hotel yang berlokasi di Tretes. Menurut petunjuk sebelumnya diketahui di dalam hotel tersebut terdapat sasaran Durmala berikutnya. Di hotel tersebut ternyata terdapat banyak tamu yang datang menginap pada saat itu. Orang-orang yang menginap saat itu antara lain tiga orang polisi, seorang wartawan dan seorang wanita cantik yang misterius. Ketika orang-orang tersebut berada di hotel tersebut, banyak kejadian aneh dan janggal yang membuat semua orang yang ada di dalamnya bingung dan ketakutan. Pada akhirnya kejadian-kejadian tersebut dapat diungkapkan kebenarannya oleh detektif Handaka.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, dapat kita ketahui bahwa cerita yang disajikan dalam novel ini sangat baru dan segar. Hal tersebut dikarenakan pada jamannya cerita detektif handaka ini merupakan satu-satunya cerita yang berani memberikan alur cerita yang menegangkan dan berbeda dengan roman-roman lain yang pada umumnya bercerita tentang kehidupan ataupun cinta. Cerita tentang detektif Handaka ini satu-satunya cerita detektif berbahasa Jawa yang tetap  menggunakan kultur masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Alur yang digunakan cukup jelas dan runtut. Selain itu cerita relatif sederhana dan tidak membuat bingung pembacanya. Berbagai misteri yang ada pada kejadian-kejadian dalam cerita tersebut dapat memberikan rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya kepada para pembaca sehingga membuat pembaca ingin membaca  cerita tersebut hingga selesai.
Bahasa yang digunakan dalam novel ini yaitu bahasa lisan yang merupakan bahasa Jawa ngoko. Bahasa ini merupakan bahasa populer dikalangan masyarakat Jawa. Maka dari itu dengan digunakannya bahasa ini gampang dimerngerti dan diterima oleh masyarakat Jawa tersebut. Selain itu tata bahasanya juga sudah sesuai dengan ketentuan yang ada dalam penggunaan bahasa Jawa. Akan tetapi bagi yang tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Jawa akan kesulitan jika ingin membaca novel tersebut. Hal itu dikarenakan novel “Tretes Tintrim” ini tidak diperbolehkan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa lainnya.
Secara keseluruhan, buku ini sangat layak untuk dijadikan bacaan bagi para penggemar novel jawa yang sudah bosan dengan cerita-cerita yang berbau cinta ataupun mistis. Novel yang berjudul “Tretes Tintrim“ ini dapat dijadikan alternative bacaan bagi anak-anak maupun dewasa sebagai sarana hiburan ataupun sarana pendidikan. Cerita yang padat namun berisi tidak membuat pembacanya urung untuk menyelesaikan membaca novel ini. Misteri-misteri yang ada didalamnya dapat memberikan efek penasaran tanpa melebih-lebihkan cerita yang ada di dalamnya. Bahasa yang sederhana namun lugas mempermudah para pembaca untuk memahami pesan-pesan yang ada di dalam novel tersebut. 

Riyani Tri Indryastuti
Pemerhati Sastra Jawa Modern



1 komentar:

  1. Lucunya kok tibaw rau penjahat Darmolosusah di tretes...kenapa klu tau ada polisi dia ngak pisah tempat. Jadi mnrh saya kasus yg di paoarkan tetlalu sederhana dan mudah di revak

    BalasHapus